Andalasinfo.com, SALATIGA — Potongan video aksi unjuk rasa Aliansi Salatiga Menggugat yang beredar luas di berbagai platform media sosial memunculkan narasi bahwa demonstrasi di depan Gedung DPRD Kota Salatiga, Rabu (17/6/2026), berlangsung ricuh. Menanggapi hal itu, Kapolres Salatiga AKBP Ade Papa Rihi memberikan penjelasan mengenai jalannya pengamanan selama aksi berlangsung.
Menurut Kapolres, sejak awal kegiatan, Polres Salatiga menerapkan pola pengamanan yang mengedepankan pendekatan humanis dan persuasif. Pengamanan dilakukan mulai dari titik kumpul massa di halaman Gedung Korpri, Jalan Stadion Kridanggo, hingga seluruh rangkaian aksi berakhir.
“Dari titik kumpul di Halaman Gedung Korpri Jalan Stadion Kridanggo hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai, personel kami terus melakukan pengawalan dan pengamanan. Prinsip kami adalah memberikan rasa aman, baik kepada peserta aksi maupun masyarakat pengguna jalan,” jelas AKBP Ade, Jumat (19/6/2026).
Saat massa bergerak menuju Bundaran Tamansari, polisi melakukan pengawalan sekaligus pengaturan lalu lintas di sejumlah persimpangan. Aksi teatrikal dan orasi yang digelar di kawasan bundaran tersebut, menurutnya, tetap berlangsung tanpa mengganggu arus kendaraan secara signifikan.
Demonstrasi kemudian berlanjut dengan long march melalui Jalan Jenderal Sudirman menuju Gedung DPRD Kota Salatiga. Selama perjalanan, personel Satlantas dan Samapta mengawal peserta aksi sembari memastikan lalu lintas di pusat kota tetap berjalan lancar.
Setibanya di depan Gedung DPRD, massa kembali menyampaikan aspirasi. Situasi mulai memanas ketika sebagian peserta melakukan pembakaran ban bekas. Polisi kemudian melakukan pemadaman untuk menghindari potensi bahaya.
“Tindakan pemadaman dilakukan semata-mata untuk menjaga keselamatan bersama. Saat itu memang sempat terjadi aksi saling dorong antara sebagian peserta aksi dengan personel yang mengamankan proses pemadaman, namun berlangsung kurang dari lima menit dan tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih luas,” jelas AKBP Ade.
Dia menegaskan, insiden saling dorong yang terekam dalam video viral tersebut hanya berlangsung singkat dan tidak berkembang menjadi kericuhan yang lebih besar. Kondisi kembali kondusif setelah aparat dan koordinator lapangan melakukan komunikasi di lokasi.
Aksi kemudian dilanjutkan dengan dialog terbuka yang dihadiri Ketua DPRD Kota Salatiga, Wali Kota Salatiga, Wakil Wali Kota Salatiga, Dandim 0714/Salatiga, Kapolres Salatiga, serta peserta demonstrasi. Dalam forum itu, mahasiswa menyampaikan berbagai tuntutan dan aspirasi terkait isu nasional maupun daerah.
Menjelang berakhirnya dialog, upaya pembakaran ban kembali terjadi. Polisi kembali melakukan pemadaman sehingga sempat memicu aksi saling dorong dengan sejumlah peserta. Namun situasi kembali terkendali dalam waktu singkat.
Kapolres menilai video yang beredar di media sosial tidak menggambarkan keseluruhan rangkaian aksi yang berlangsung selama berjam-jam.
“Yang viral hanyalah beberapa detik dari keseluruhan proses yang berlangsung selama berjam-jam. Faktanya, sebagian besar kegiatan berjalan damai, peserta dapat menyampaikan aspirasi dengan baik, dialog dengan pemerintah daerah berlangsung terbuka, dan seluruh peserta akhirnya membubarkan diri dengan aman. Itulah gambaran utuh yang perlu diketahui masyarakat,” tegasnya.
Di akhir keterangannya, Kapolres mengapresiasi peserta aksi, koordinator lapangan, serta masyarakat yang ikut menjaga situasi tetap kondusif selama demonstrasi berlangsung.
“Kami menghormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Polres Salatiga akan selalu hadir mengawal setiap penyampaian aspirasi secara profesional, humanis, dan mengutamakan dialog, sehingga keamanan, ketertiban, serta keselamatan seluruh masyarakat tetap terjaga,” tandasnya.

Leave a Reply