Andalasinfo.com, SRAGEN — Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi kepada petani di Kabupaten Sragen selama dua musim tanam mencapai rata-rata 50%. Namun, serapan pupuk ZA masih rendah, yakni 16%, karena penggunaannya diperuntukkan bagi tanaman tebu yang belum banyak dibudidayakan.
Kebutuhan pupuk bersubsidi untuk musim tanam (MT) III juga dipastikan masih aman lantaran cukup banyak lahan pertanian yang bera atau tidak ditanami.
Kabid Prasarana dan Sarana Pertanian Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Sragen, Laksana Ambar Kusuma, mengatakan penyaluran pupuk bersubsidi dilakukan untuk mendukung produktivitas pertanian di 20 kecamatan. Penyaluran tersebut mengacu pada alokasi resmi yang ditetapkan melalui Keputusan Kepala DKP3 Sragen Nomor 500.6.7.4/116/2025.
Menurutnya, pupuk bersubsidi yang disalurkan meliputi empat jenis, yakni urea, NPK, organik, dan ZA. Penyalurannya dilakukan melalui kartu tani maupun pencatatan manual.
Laksana menjelaskan realisasi penyaluran pupuk bersubsidi hingga Juli 2026 menunjukkan capaian yang cukup tinggi. Dari alokasi 39.250 ton, pupuk urea telah terserap 20.394,248 ton atau 51,96%.
Sementara itu, pupuk NPK dari alokasi 39.750 ton telah tersalurkan sebanyak 19.684,11 ton atau 49,56%.
Serapan Pupuk Organik Tertinggi
Laksana mengatakan pupuk organik menjadi jenis pupuk dengan tingkat serapan tertinggi. Dari alokasi 11.000 ton, realisasi penyalurannya mencapai 7.695,316 ton atau sekitar 70%.
Adapun pupuk ZA baru terserap 85,725 ton atau 15,78% dari total alokasi 546,8 ton.
“Lalu untuk pupuk organik di Sragen serapannya paling tinggi. Dari alokasi 11.000 ton sudah terserap 7.695,316 ton atau 70%. Sedangkan serapan untuk pupuk jenis ZA baru 16% atau 85,725 ton dari total alokasi 546,8 ton,” jelas Laksana.
Ia menjelaskan penyaluran pupuk bersubsidi berfluktuasi mengikuti musim tanam dan kebutuhan petani. Penyaluran masih rendah pada Januari, kemudian meningkat signifikan pada Februari hingga April seiring dimulainya musim tanam kedua.
Puncak penyaluran terjadi pada April dengan realisasi pupuk urea mencapai 4.897,133 ton dan NPK sebesar 4.476,32 ton.
Memasuki Mei, penyaluran kembali menurun menjadi di bawah 2.000 ton. Namun pada Juni hingga Juli kembali meningkat dengan penyaluran urea mencapai 4.109,879 ton dan NPK sebesar 4.047,33 ton.
Menurut Laksana, penyaluran pupuk tersebar di seluruh kecamatan dengan karakteristik kebutuhan yang berbeda. Kecamatan Mondokan mencatat penyerapan tertinggi pada Januari untuk pupuk urea dan NPK, dengan realisasi kumulatif hingga Juli mencapai 56%.
Sementara di Kecamatan Sumberlawang, serapan pupuk berlangsung konsisten sehingga realisasi urea mencapai 58% dan NPK 59%. Adapun di Kecamatan Plupuh, serapan pupuk relatif stabil, yakni 51% untuk urea dan 53% untuk NPK.
“Hanya sedikit kecamatan yang menyerap pupuk ZA sehingga serapannya masih rendah di angka 16% karena peruntukannya bagi tanaman tebu dan belum banyak petani yang menanam tebu,” katanya.
Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno, mengatakan ketersediaan pupuk bersubsidi pada musim tanam III relatif melimpah. Hal itu dipengaruhi banyak petani yang tidak menanam padi karena keterbatasan air irigasi.
Ia memperkirakan luas sawah bera di Sragen pada musim tanam III mencapai sekitar 30%-40%.
“Hari-hari ini sudah mulai pemupukan di MT III. Selama ini tidak ada masalah. Untuk harga juga sesuai harga eceran tertinggi (HET) di tingkat PPTS atau kios resmi. Saya kira perlu pengawasan pada penjualan pupuk di PPTS karena beredar pupuk di luar PPTS dengan harga di atas HET,” ujarnya.

Leave a Reply