Andalasinfo.com, MAGETAN – Petani jagung di Desa Turi, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, resah dengan serangan hama tikus pada musim kemarau 2026. Lahan seluas 30 hektare yang ditanami komoditas itu terancam gagal panen meski harga jual tergolong baik.
Perangkat Desa Turi, Suprianto, menyampaikan para petani di desanya dalam dua bulan terakhir telah resah dengan serangan hama tikus yang terus merusak tanaman jagung. Saat ini, sedikitnya 40 persen lahan telah rusak dan jika tidak dicegah berpotensi menyebabkan gagal panen secara luas.
Menurutnya, hama tikus biasanya memakan bagian ujung hingga bonggol jagung. Tanaman yang rusak parah bahkan tidak dapat dipanen, sedangkan tanaman yang masih bertahan berpotensi mengalami penurunan hasil.
“Mulai bulan Juli itu jagung diserang tikus, dimakan. Mulai dari yang tanam itu juga sudah dimakan, termasuk yang sudah tua mulai dimakan,” ujarnya, Jumat (4/9)2026).
Dia menjelaskan, kerusakan lahan jagung yang ada di Desa Turi selama dua bulan terakhir terus mengalami peningkatan. Dari total lahan yang ada, saat ini sekitar 40 persen lahan telah rusak dan dipastikan gagal panen meski berbagai upaya pengendalian seperti penggunaan racun tikus telah diupayakan secara mandiri.
Di sisi lain, hama tikus menurutnya lebih sering menyerang pada malam hari di saat para petani cenderung tidak ke sawah.
“Sarangnya itu di lubang-lubang galengan [pematang sawah], sudah diracun sama petani tapi ya ga efektif karena sendiri-sendiri gitu,” jelasnya.
Suprianto menyebut serangan tikus kali ini tergolong parah dan baru pertama terjadi di wilayah tersebut. Petani berharap pemerintah segera turun tangan melakukan pengendalian secara serentak agar serangan tidak meluas pada musim tanam berikutnya.
Di tengah harga jual jagung yang mencapai Rp6.300 per kilogram, hama tikus membuat petani resah karena terancam gagal panen.
“Resah semua ini petani, bisa-bisa ga panen kalau terus-terusan seperti ini,” kata dia.

Leave a Reply