Mengenal Kampung Bahasa di Magetan, Warga Bisa Belajar 4 Bahasa Secara Gratis

Mengenal Kampung Bahasa di Magetan, Warga Bisa Belajar 4 Bahasa Secara Gratis
Sejumlah peserta pelatihan pranatacara bahasa Jawa di Kelurahan Bulukerto, Kabupaten Magetan, Rabu (22/7/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Andalasinfo.com, MAGETAN — Kelurahan Bulukerto, Kecamatan Magetan, juga dikenal sebagai “Kampung Bahasa” di Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Di sana, pemerintah kelurahan membuka kelas empat bahasa sekaligus yang dapat diakses gratis oleh siapapun.

Sejak kembali dibuka pada tahun 2023 silam, ratusan peserta baik dari Magetan, Ngawi, Kota Madiun, hingga daerah lain rela meluangkan waktu mengikuti empat kelas bahasa yakni Jawa, Indonesia, Inggris, dan Arab yang seluruhnya diselenggarakan secara gratis.

Di Kampung Bahasa ini, para peserta akan belajar tata bahasa mulai dasar hingga cara pengucapan yang baik dan benar. Di antara empat bahasa yang tersedia, kelas bahasa Jawa memiliki daya tarik tersendiri dan selalu mendapat peserta paling banyak dibanding 

Di antara seluruh kelas yang tersedia, kelas pranatacara bahasa Jawa menjadi magnet utama. Ratusan peserta belajar tidak hanya berbicara menggunakan bahasa Jawa yang baik dan benar, tetapi juga mendalami filosofi adat, khususnya prosesi pernikahan dan tradisi Jawa.

Salah seorang peserta, Neneng Dwi Astuti, mengaku sengaja mengikuti kelas tersebut untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Jawa yang juga menunjang profesinya sebagai tenaga pendidik.

“Saya sebelumnya lebih sering pakai bahasa Indonesia saat menjadi MC. Setelah mengikuti kelas ini ternyata menyusun dan menyampaikan pranatacara bahasa Jawa memiliki tantangan tersendiri. Meski masih banyak belajar, prosesnya sangat menyenangkan,” ujarnya, Rabu (22/7/2026).

Salah satu peserta pelatihan pranatacara bahasa Jawa di Kelurahan Bulukerto, Kabupaten Magetan, Rabu (22/7/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)
Salah satu peserta pelatihan pranatacara bahasa Jawa di Kelurahan Bulukerto, Kabupaten Magetan, Rabu (22/7/2026). (Espos.id/Imam Mustajab)

Pengajar pranatacara, Sartono, mengatakan kelas tersebut menjadi salah satu cara menjaga bahasa dan budaya Jawa agar tidak terkikis perkembangan zaman.

Dalam sesi pelatihan, ia menjelaskan Sekitar 75 persen materi diisi praktik dan hanya 25 persen teori agar peserta terbiasa menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja. Hal itu bertujuan para peserta pelatihan bisa mempraktekan langsung teori yang didapat.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya mampu berbicara menggunakan bahasa Jawa, tetapi juga memahami filosofi di balik setiap prosesi adat. Pranatacara bukan sekadar pembawa acara, melainkan penjaga nilai budaya,” katanya.

Kepala Kelurahan Bulukerto, Widya Yusti Atlisiaji, mengungkapkan saat mulai bertugas pada Maret 2023, Kampung Bahasa sebenarnya sudah ada. Namun, keberadaannya hanya sebatas nama dan penanda kawasan tanpa aktivitas belajar.

Melihat potensi tersebut, Widya bersama relawan dan para pengajar kemudian membangun kembali program itu dari nol. Mereka menyusun kurikulum, merekrut tenaga pengajar, hingga membuka kelas secara bertahap. Upaya tersebut membuahkan hasil. Dalam kurun tiga tahun, jumlah peserta terus bertambah hingga mencapai ratusan orang.

“Saat saya datang, embrionya sudah ada, tetapi belum ada kegiatan belajar. Kami kemudian mengajak relawan dan tenaga yang kompeten untuk menghidupkannya kembali hingga berkembang seperti sekarang,” ungkapnya.

Widya mengatakan antusiasme masyarakat terus meningkat seiring pengembangan proses pembelajaran, bahkan banyak peserta yang datang dari luar Magetan, terutama untuk mengikuti kelas pranatacara bahasa Jawa.

Sedangkan, saat ini tersedia empat kelas utama, yakni bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Arab. Kelas dibuka bagi anak-anak, remaja, hingga orang dewasa pada sore hari setelah jam sekolah maupun bekerja.

Sebagai pengembangan program, Kelurahan Bulukerto juga menyiapkan bimbingan belajar intensif gratis bagi siswa kelas VI SD mulai 2026.

“Siapa saja yang ingin belajar kami persilakan datang ke Bulukerto. Gratis. Harapan kami Bulukerto menjadi pusat belajar bahasa dan budaya yang didatangi masyarakat dari berbagai daerah,” kata dia.

Leave a Reply