Andalasinfo.com, PURWOKERTO-Tanaman sereh yang tumbuh subur di pekarangan warga Desa Wantisari, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, ternyata menyimpan potensi yang lebih besar dari sekadar tanaman bumbu dapur.
Di tangan mahasiswa KKN Nusantara VI Tahun 2026, sereh diolah menjadi produk spray antinyamuk berbahan alami bernama Nahwangi. Inovasi tersebut bahkan berhasil membawa Kelompok 9 Nawantara meraih Juara II Stand Ekspo Terbaik, sekaligus penghargaan Kelompok Teraktif pada Ekspo dan Penutupan KKN Nusantara VI, Kamis (20/8/2026).
Salah satu mahasiswa yang terlibat dalam inovasi tersebut adalah mahasiswa Program Studi Tadris Matematika (TMA) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto Rizka Saputro Nugroho.
Prestasi tersebut menjadi buah dari proses pengabdian yang dilakukan mahasiswa lintas perguruan tinggi selama menjalankan KKN di Desa Wantisari. Mereka tidak hanya melihat potensi yang ada di masyarakat, tetapi juga mencoba mengolahnya menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.
Menurut Rizka, produk Nahwangi dikembangkan dalam rangkaian program Workshop Pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD) melalui Pengelolaan Lingkungan dan Sampah Berkelanjutan. “Workshop berlangsung di Balai Desa Wantisari pada 11 Agustus 2026 dan melibatkan ibu-ibu kader Posyandu dari delapan Posyandu di Desa Wantisari,” ujarnya Jumat (28/8/2026).
Kegiatan tersebut tidak hanya memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan mengelola sampah untuk mencegah DBD. Para kader juga diperkenalkan pada pemanfaatan sereh sebagai bahan alami untuk membuat spray antinyamuk. “Dari sinilah spray antinyamuk “Nahwangi” lahir,” imbuh dia.
Pemanfaatan tanaman yang tersedia di sekitar masyarakat menjadi bagian dari pendekatan pengabdian yang dilakukan Kelompok Nawantara. Pengetahuan yang diberikan juga diharapkan tidak berhenti selama kegiatan berlangsung, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat setelah mahasiswa meninggalkan Desa Wantisari.

Produk tersebut kemudian dibawa ke ajang ekspo KKN Nusantara VI. Di tengah berbagai inovasi dari kelompok lain, “Nahwangi” menjadi salah satu daya tarik stand Nawantara karena memperlihatkan bagaimana potensi sederhana di lingkungan desa dapat dikembangkan menjadi produk yang lebih bernilai.
Dijelaskan Rizka, keberhasilan Kelompok 9 Nawantara tidak lahir dari satu kegiatan saja. Selama berada di Desa Wantisari, sebanyak 16 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam menjalankan program pengabdian di sejumlah bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, sosial, keagamaan, kepemudaan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Program pendidikan antara lain diwujudkan melalui sosialisasi gerakan antiperundungan dalam rangka Hari Anak Nasional di MA Al-Hidayah Wanti dan MTs Al-Hidayah Wanti. Di bidang lingkungan, mahasiswa membuat dan memasang plang nama kampung serta melakukan penanaman dan pembagian bibit pohon albasia kepada MTs Al-Hidayah Wanti, MA Al-Hidayah Wanti, dan MI Negeri 1 Lebak.
Bibit albasia juga disalurkan kepada Pemerintah Desa Wantisari sebagai bagian dari upaya mendukung penghijauan dan kepedulian terhadap lingkungan. Sementara di bidang literasi, Kelompok Nawantara menjalankan Gerakan Giat Baca melalui layanan perpustakaan keliling dan mobil pintar.
Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Banten di SD Negeri 1 Wantisari. Mahasiswa juga terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dengan berkolaborasi bersama Pemerintah Desa Wantisari dalam lomba gerak jalan dan Lomba Kampung Harmoni untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa KKN bukan sekadar kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat. Lebih jauh, KKN menjadi ruang perjumpaan berbagai disiplin ilmu, pengalaman, dan potensi lokal untuk menghasilkan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kelompok 9 Nawantara memiliki anggota yang berasal dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam. Mereka adalah Rizka Saputro Nugroho dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto; Muhammad Farid Al-Hafizh dari UIN Jurai Siwo Lampung; Nuzila Khoirunnisa, Muhammad Hasyim, Siti Nur Alisah, dan Annisa Dinda Lestari dari UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
Selanjutnya, Alfi Syah dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung; Nur Anisah dari UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan; Rizki Trima Hendra dari UIN Raden Intan Lampung; Ikhda Fazadatul Barokah dari UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan; Risky Nur Azizah dari UIN Sunan Kudus.
Kemudian, Rabiatul Adawiyah dari UIN Mataram; Nor Hikmah dari UIN Palangkaraya; Rabbiul Nguna Nguna dari IAIN Ternate; Hadana Rosyada dari UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi; serta Zinnia Wahyunika Sagiem dari IAIN Kendari.
Pelaksanaan KKN Nusantara dari UIN Saizu Purwokerto mendapatkan pendampingan Dr. M.A. Hermawan selaku Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Nusantara. Sementara itu, Kelompok 9 Nawantara dalam menjalankan pengabdian di Desa Wantisari dibimbing Dr. Ade Fartini.
KKN Nusantara VI Tahun 2026 sendiri diikuti 15 kelompok dari berbagai PTKIN yang ditempatkan di Kecamatan Leuwidamar dan Kecamatan Cirinten, Kabupaten Lebak. Keragaman latar belakang mahasiswa menjadi kekuatan tersendiri. Mereka membawa pengetahuan dari kampus masing-masing, kemudian bertemu dengan kebutuhan dan potensi masyarakat Desa Wantisari.
Kisah “Nahwangi” menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Kadang, ia bermula dari tanaman yang tumbuh di sekitar rumah. Sereh yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai tanaman biasa kemudian menjadi bahan untuk membuat produk yang memiliki nilai guna.
Pengetahuan tentang pengelolaan lingkungan, kesehatan, dan kreativitas mahasiswa bertemu dalam satu kegiatan yang melibatkan masyarakat. Dari sana, produk sederhana tersebut dibawa ke panggung ekspo KKN Nusantara VI.
Juara II Stand Ekspo Terbaik menjadi pengakuan atas kreativitas Kelompok Nawantara dalam mengolah potensi lokal. Sementara penghargaan Kelompok Teraktif mencerminkan keterlibatan mahasiswa dalam berbagai kegiatan bersama masyarakat selama pelaksanaan KKN.
Bagi mahasiswa UIN Saizu Purwokerto, Rizka Saputro Nugroho, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengabdian dapat tumbuh dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Apa yang dilakukan Kelompok Nawantara juga menjadi gambaran bahwa mahasiswa tidak harus datang ke desa dengan membawa solusi yang sepenuhnya baru.
Mereka dapat memulai dengan melihat apa yang sudah dimiliki masyarakat, lalu mengembangkan potensi tersebut melalui pengetahuan, kreativitas, dan kolaborasi.
Dari sereh menjadi Nahwangi. Dari sebuah tanaman sederhana menjadi inovasi. Dan dari sebuah program KKN, lahir sebuah cerita tentang bagaimana potensi lokal, edukasi, kolaborasi, dan kreativitas mahasiswa dapat bertemu untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus membawa nama daerah dan perguruan tinggi ke tingkat nasional.
Pada akhirnya, prestasi Kelompok 9 Nawantara bukan hanya tentang piala yang dibawa pulang. Lebih dari itu, ada pesan bahwa pengabdian yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dan mengoptimalkan potensi lokal dapat menciptakan dampak yang lebih bermakna. (NA)

Leave a Reply